Sunday, November 4, 2012

Sistem pakar untuk mendiagnosa penderita Obsesive Compulsive Disorder


Hello readers welcome to my blog :)
Di episode kali ini, saya bakalan sharing mengenai suatu gangguan kecemasan yang mungkin kalian belum tau, namanya Obsesive Compulsive Disorder atau gangguan obsesi kompulsi. Kalo kalian pernah ngeliat orang yang kerjaannya ngelakuin sesuatu hal berulang-ulang dan sering cemas kalo nggak ngelakuin hal tersebut ada kemungkinan ni dia mengidap gangguan ini.
Nah, sebelum saya jelasin apa itu OCD, gejala , terapi dll. Sebaiknya saya jelaskan dulu tentang sistem pakar. Sehingga, akan lebih mudah bagi kalian untuk mendiagnosa gangguan ini.
A.  Sistem pakar (expert system)
     Suatu sistem yang bertujuan untuk membuat keputusan yang lebih cepat daripada pakar. Dengan adanya sistem pakar ini, pihak manajemen memperoleh keuntungan mendapatkan pakar tanpa pakar tersebut berada ditempat. Sistem pakar ini dapat sama atau bahkan dapat melebihi kepakaran manusia, setidaknya dalam konsistensi. Sistem pakar ini bisa disebarkan kepada para non pakar untuk kebutuhan pendidikan dan pelatihan.
    Menurut Kusrini (2006), pada dasarnya sistem pakar dierapkan untuk mendukukung aktivitaspemecahan masalah. Beberapa aktivitas pemecahan masalah yang dimaksud seperti pembuatankeputusan (decision making), pemanduan pengetahuan (knowledge fusing), pembuatan desain (designing), perencanaan (planning), prakiraan (forescatting), pengaturan (regulating),pengendalian (controlling), diagnosa (diagnosing), perumusan (prescribing), penjelasan
(explaining), pemberian nasihat (advising) dan pelatihan (tutoring).


B. Obsesive Compulsive Disorder (OCD)

Definisi Obsesive Compulsive Disorder 
Obsesi adalah pikiran, impuls, dan citra yang mengganggu dan berulang yang muncul dengan
 sendirinya serta tidak dapat dikendalikan, walaupun demikian biasanya tidak selalu tampak
 irasional bagi individu yang mengalaminya. Secara klinis, obsesi yang paling banyak terjadi
 berkaitan dengan ketakutan akan kontaminasi, ketakutan mengekspresikan implus seksual atau
 agresif, dan ketakutan hipokondrial akan disfungsi tubuh. David (2000), mengatakan obsesi
 adalah gagasan, bayangan, dan implus yang timbul didalam pikiran secara berulang, sangat
 menganggu, dan pasien merasa tidak mampu mengehentikannya. Pikiran” yang muncul itu
 biasanya tidak dikehenaki, menimbulkan penderitaan, dan kadang menakutkan atau
 membahayakan (misalnya, dorongan untuk melompat ke depan mobil yang sedang berjalan dll).
Kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental repetitive yang mana seseorang merasa didorong untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan pikiran-pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu bencana. David (2000), menjelaskan bahwa kompulsi (menghitung, menyentuh, membersihkan) untuk menyingkirkan peristiwa yang tidak diinginkan atau memuaskan pikiran obsesinya (misal, obsesi tentang kekotoran akan menimbulkan tindakan ritual mencuci tangan). Bisa dibilang, kompulsi adalah obsesi yang dimanifestasikan.
            Jadi, Obsesive Compulsive Disorder (OCD) merupakan suatu gangguan anxietas dimana
    pikiran dipenuhi denga pemikiran yang menetap dan tidak dapat dikendalikan dan individu dipaksa
    untuk terus menerus mengulang tindakan tertentu, menyebabkan distress yang signifikan dan
    menganggu keberfungsian sehari-hari.
Dalam reaksi obsesif, pikiran-pikiran yang menghantui tersebut bersifat persisten (tak mau hilang), terasa irasional bagi yang bersangkutan dan sangat mengganggu tingkah lakunya sehari-hari. Sedangkan, dalam reaksi kompulsif, penderita merasa harus melakukan tindakan tertentu yang baginya sendiri terasa absurd atau aneh dan yang sebenarnya ia tak mau lakukan. Misalnya mulai dari perbuatan yang sederhana seperti mendeham, sampai perbuatan yang cukup kompleks seperti mencuci tangan berulang kali.
Gangguan obsesif compulsif lazim diderita oleh orang-orang yang minder dan merasa tidak aman, yang kaku suara hatinya, yang mudah merasa bersalah, dan yang mudah merasa terancam

         Kompulsi yang biasanya dilakukan mencangkup hal-hal berikut:
a.  Mengupayakan kebersihan dan keteraturan, kadangkala melalui upacara rumit yang memakan waktu berjam-jam dan bahkan sepanjang hari
b.      Menghindari objek tertentu, seperti menghindari seala sesuatu yang berwarna coklat
c. Melakukan praktik-praktik repetitive, magis dan protektif seperti menghitung, mengucapkan angka tertentu, atau menyentuh semacam jimat atau bagian tubuh tertentu
d.    Mengecek sebayak tjuh atau delapan kali untuk memastikan bahwa tindakan yang telah dilakukan benar-benar telah dilakukan, contohnya lampu, pemantik kompor, atau katup telah dimatikan, jendela telah ditutup, pintu telah dikunci
e.      Melakuakan suatu tindakan tertentu, seperti makan dengan sangat lambat

         Etiologi (penyebab)
a.       Psikoanalisis
Sigmun Freud menjelaskan OCD disebabkan oleh dorongan instingtual, seksual atau agresif yang tidak dapat dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras, yang bersangkutan kemudian terfiksasi pada tahap anal.

b.      Behavioral dan Kognitif :
Teori ini menganggap kompulsi sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh reduksi rasa takut. Sebagai contoh, mencuci tangan secara kompulsif dipandang sebagai respon pelarian operant yang mengurangi kekhawatiran obsesional dan ketakutan terhadap kontaminasi oleh kotoran dan kuman. Pemikiran lain mengenai pengecekan secara kompulsif adalah bahwa hal itu disebabkan oleh deficit memori, ketidakmampuan untuk mengingat suatu tindakan secara akurat. 
 
        Diagnosis
        Kriteria diagnostic ganguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV :
a.       Salah satu dari obsesi-kompulsi:
           Obsesi :
1)      Pikiran, implus atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat selama gangguan, sebagai intrusive dan tidak sesuai dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan yang jelas.
2) Pikiran, implus, atau bayangan-bayangan tidak semata-semata kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata.
3) Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, implus, atau bayangan-bayangan tersebut untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan lain.
4)  Orang menyadari bahwa pikiran, implus, atau bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar seperti penyisipan pikiran)

Kompulsi:
1)  Perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental (misalnya , berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk melakukannya  sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan yang harus dipenuhi secara kaku.
2)      Perilaku atau tindakan mental ditunjukan untuk mencegah atau menyrynkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan: tetapi perilaku atau tindakan mental tsb tidak dihubungkan dengan cara yang realistic dengan apa mereka anggap untuk menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan.
b.   Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adlah berlebihan atau tidak beralasan (tidak berlaku bagi anak-anak).
c. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas; menghabiskan waktu (menghabiskan waktu lebih dari satu jam sehari) atau secara bermakna menganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas atau hubungan sosial yang biasanya.
d.  Jika terdapat gangguan axis 1 lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya, preokupasi dengan makanan jika terdapat gangguan makan; menarik rambut jika terdapat trikotilomania; permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh; preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat; preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat hipokondriasis; preokupasi dengan dorongan atau fantasi seksual jika terjadi parafilisa; atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan depresif berat)
e.   Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya, obat yag disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum.

      Terapi
a.       Terapi psikoanalisis :
Terapi yang dilakukan adalah mengurangi represi dan memungkinkan pasien untuk menghadapi hal yang benar-benar ditakutinya. Pasien harus belajar untuk menoleransi ketidakpastian dan kecemasan yang dirasakan semua orang seiring mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada sesuatu yang pasti atau dapat dikendalikan secara mutlak dalam hidup ini.
Namun karena pikiran-pikiran yang mengganggu dan perilaku kompulsif bersifat melindungi ego dari konflik yang direpres, maka hal ini menjadi sulit untuk dijadikan target terapi, dan terapi psikoanalisa tidak terlalu efektif untuk menangani gangguan obsesif-kompulsif (Fausiah &Widury, 2007). Fokus akhir dalam terapi tetap berguna insight atas berbagai simtom yang tidak disadari.

b.      Pendekatan behavioral , Exposure and Response Prevention (ERP):
Terapi ini (dikenal pula dengan sebutan flooding ) diciptakan oleh Victor Meyer (1966), dimana pasien menghadapkan dirinya sendiri padasituasi yang menimbulkan tindakan kompulsif atau (seperti memegangsepatu yang kotor) dan kemudian menahan diri agar tidak menampilkan perilaku yang menjadi ritualnya membuatnya menghadapi stimulus yangmembangkitkan kecemasan, sehingga memungkinkan kecemasan menjadihilang. (Fausiah & Widury, 2007). Asumsinya adalah bahwa ritual tersebut merupakan penguatan negatif  karena mengurangi kecemasan yang  ditimbulkan oleh suatu stimulus arau peristiwa dalam lingkungan. Kadang kala, metode ini dilakukan melalui imajinasi, terutama jika tidak memungkinkan untuk melakukannya secara nyata, contohnya bila seseorang percaya bahwa ia akan terbakar di neraka jika gagal melakukan ritual tertentu.

c.       Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)
Menurut Davison & Neale (Fausiah & Widury, 2007), terapi inidigunakan dengan pemikiran untuk membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa segala sesuatu harus terjadi menurut apa yang merekainginkan, atau bahwa hasil pekerjaan harus selalu sempurna. Terapikognitif dari Beck juga dapat digunakan untuk menangani pasiengangguan obsesif kompulsif. Pada pendekatan ini pasien diuji untuk menguji ketakutan mereka bahwa hal yang buruk akan terjadi jika merekatidak menampilkan perilaku kompulsi.

d.      Farmakoterapi
Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja terutama pada terminal akson presinaptik dengan menghambat ambilan kembali serotonin. Penghambatan ambilan kembali serotonin diakibatkan oleh ikatan obat (misalnya: fluoxetine) pada transporter ambilan kembaliyang spesifik, sehinggga tidak ada lagi neurotransmitter serotonin yangdapat berkaitan dengan transporter. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin bertahan lebih lama di celah sinaps. Pengguanaan Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) terutama ditujukan untuk memperbaiki perilaku stereotipik , perilaku melukai diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal rutin, dan ritual obsesif dengan ansietas yangtinggi. Salah satu alas an utama pemilihan obat-obat penghambat reuptakeserotonin yang selektif adalah kemampuan terapi. Efek samping yangdapat terjadi akibat pemberian fluexetine adalah nausea, disfunfsi seksual,nyeri kepala, dan mulut kering. Toleransi SSRI yang relative baik disebabkan oleh karena sifat selektivitasnya. Obat SSRI tidak banyak  berinteraksi dengan reseptor neurotransmitter lainnya. Penelitian awaldengan metode pengamatan kasus serial terhadap 8 subjek. Tindakanterapi ditujukan untuk mengatasi gejala-gejala disruptif, dan dimulaidengan fluexetine dosis 10 mg/hari dengan pengamatan. Perbaikan palingnyata dijumpai pada gangguan obsesif dan gejal cemas.
 
e.       Terapi Keluarga (Family therapy)
Terapi keluarga merupakan teknik pengobatanyang sangat penting bila pada keluarga pasien OCD ini didapatkankekacauan hubungan dalam keluarga, kesukaran dalam perkawinan,masalah spesifikasi dalam anggota keluarga atau peran anggota keluargayang kurang sesuai yang akan mengganggu keberhasilan fungsi masing-masing individu dalam keluarga termasuk dalam waktu jangka panjangakan berakibat buruk pada anak OCD.Seluruh anggota keluarga dimasukkan ke dalam proses terapi,menggunakan semua data anggota keluarga seperti tingkah laku individudalam keluarga. Menilai tingkah laku setiap anggota keluarga yangmempengaruhi tingkah laku yang baik dan membina pengaruh tingkahlaku yang positif dari setiap individu.
 
f.       Terapi perilaku (Behavior therapy)
Leonardo mengatakan bahwa teknik terapi perilaku yang khusus digunakan untuk pasien anak usia lebih tua danremaja dengan gangguan OCD adalah latihan relaksasi dan response prevention technique. Terapi perilaku pada penderita OCD, awalnya mengumpulkaninformasi yang lengkap mengenai riwayat timbulnya gejala OCD, isyaratfaktor internal dan fakto eksternal, serta faktor pencetus akan timbulnyagejala OCD. Kemudian mengawasi tingkah laku pasien dala menghindari situasi yang menimbulkan kecemasan, menghindari timbulnya gejalakompulsif dan tingkat kecemasan pasien saat timbul gejala OCD harus diperiksa secara teliti.
 
1.                  Teknik terapi perilaku yang dianjurkan pada anak dan remaja:
 
a.       Latihan relaksasi
Pasien diminta untuk berpikir dan bersikap rileks dan kemudian pasien diminta untuk memikirkan pikiran obsesi masuk dalam alamsadar. Ketika pikiran obsesi muncul, maka terapi akan meminta pasienuntuk menghentikan pemikiran itu, misalnya dengan cara memukulmaja, atau menarik tali elastic yang diikatkan pada tangan. Hal inidilakukan di rumah atau di mana saja. 
b.      Response prevention technique
Mula-mula didapatkan dulu rangsangan (stimulus) atau pencetusyang menyebabkan dorongan untuk melakukan tindakan kompulsif.Jika rangsangan kompulsif muncul maka pasien secara aktif diberanikan untuk melawan tingkah laku kompulsif, sering denganmengalihkan perhatian pasien sehingga tindakan kompulsif tidak mungkin dilakukan misalnya dengan memukul meja.
c.               Penurunan kecemasan
Tujuan dari terapi ini untuk menghilangkan kecemasan yang menimbulkan gejala obsesif dan kompulsif.. Hal ini dilakukan dengan desensitisasi secara sistematik yakni dengan menghadapkan anak atau remaja pada situasi yang menakutkan(misalnya pisau, hal-hal yang kotor, pegangan pintu dan sebagainya)secara pelan-pelan samapai ketakutan dan kecemasan hilang atau tidak ada lagi.

 
       Diagnosa sistem pakar
 Sistem pakar menirukan perilaku seorang pakar dalam menangani suatu persoalan. Sebagai contoh kasus, seorang pasien mendatangi dokter untuk memeriksa badannya yang mengalami gangguan kesehatan, maka dokter atau pakar kesehatan akan memeriksa dan melakukan diagnosa. Bila dokter sibuk, pelaksana diagnosa digantikan oleh sebuah sistem pakar, maka sistem pakar diharapkan untuk membantu memahami dan menganalisa keadaan pasien yang datang dan menemukan penyakit yang diderita pasien itu. Sistem pakar juga diharapkan menghasilkan dugaan atau hasil diagnosa yang sama dnegan diagnosa yang dilakukan oleh seorang ahli.
Proses diagnosa penyakit dapat disebut sebagai proses mengenali penyakit berdasar gejala-gejalanya. Dengan penggunaan teknik-teknik kecerdasan buatan, kemampuan-kemampuan yang menunjukan kecerdasan tersebut dimiliki sebuah sistem pakar. Kemampuan-kemampuan ini membuat sebuah sistem pakar mampu meniru perilaku seorang pakar dalam menghadapu masalah dibidang tertentu, sehingga dapat membantu manusia memecahkan persoalan-persoalan yang sebelumnya hanya dapat diselesaikan oleh seorang pakar. Sistem yang dibuat bukan berarti menggantikan peran psikolog tetapi hanya sebagai bahan pengetahuan masyarakat terhadap permasalahan yang berhubungan dengan OCD.

Rancangan sistem pakar untuk mendiagnosa OCD


Refrensi :
Ma’arif, M.Syamsul, Tanjung Hendri. (2003). Manajemen operasi. Jakarta:Grasindo

Kusrini. (2006). Sistem pakar : Teori dan aplikasi . Yogyakarta : Andi Offset.

Juanda, H.A. (2006). TORCH, akibat dan solusinya. Solo: PT. Wangsa Jatra Lestari

Supratiknya, A. (___). Mengenal prilaku abnormal. http://books.google.co.id

Fausiah, F & Widury, J. 2007. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI-Press.

Tomb, David A. (2000). Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC
Pinzon, R. (2006). Tatalaksana Farmakologis. Gangguan Spektrum Autistik: Telaah Pustaka Kini
. Dexa Media. Jurnal Kedokteran dan Farmasi, No.4, vol.19,ISSN 0215-7551, hal. 169-172.

Mahajudin. 1995.Gangguan Obsesif-Kompulsif. TinjauanGejala dan Psikodinamika. Jurnal Anima, vol X, No.40, hal.44-71

Davidson, Gerald C., Neale, John M., & Kring, Ann M.(2010). Psikologi abnormal.  Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Edisi 9
Kaplan, Harold I. & Sadock, Benjamin J. (1997). Sinopsis Pskiatri. Edisi 7. Jakarta: Binarupa Aksara.



No comments:

Post a Comment